in Indonesia

Local community, the forgotten host: Governors’ Climate and Forests (GCF) meeting in Aceh

Local community, the forgotten host: Governors' Climate and Forests (GCF) meeting in Aceh

This week (from 17-22 April), the Governors’ Climate and Forests (GCF) Taskforce takes place in Aceh province, Indonesia. Three working groups in the meeting will discuss standards and criteria; project based carbon accounting; and funding.

But local groups feel they have been excluded from the discussions and from the REDD-type project at Ulu Masen in Aceh province.

Yesterday, the Acehnese Civil Society Forum for the Sovereignty of Mukim released a press release signed by 51 groups:

PRESS RELEASE

Local community, the forgotten host: Governors’ Climate and Forests (GCF) meeting in Aceh

Acehnese Civil Society Forum for the Sovereignty of Mukim

Released on: May 17th, 2010

Banda Aceh – Indonesia. Visitors to the capital of Aceh province these weeks will see giant billboards sit proudly in the town’s strategic corners announcing an important meeting. From 17th to 22nd of May 2010 the governor of Aceh province Indonesia, is playing host to the meeting of the Governors’ Climate and Forests (GCF) Taskforce. The Governors group originated in a 2008 meeting called the Governors’ Global Climate Summit in California hosted by Governor Arnold Schwarzenegger. The establishment of the taskforce is one of the first implementation of the Joint Action Plan agreed at the follow-up meeting in Belem, Brazil, in 2009.

The two Indonesian local governments of Aceh and Papua, who have been involved in the group since its conception, put REDD projects on the table as key Green House Gases (GHG) and forest activities. So far, the Ulu Masen project is the high-profile REDD project in Aceh developed by Flora Fauna International. The international NGO has been able to attract the interest of carbon trader such as the Australian company Carbon Conservation with projection to generate 3.3 million carbon credits. FFI claims that using the assumption of carbon market price of US$5, the project may be able to fetch around US$16.5 million each year [1]. The fund generated bound to be fluctuated consistent to the nature of market.

The glossy picture of smiling governors on the billboards and the promise of big bucks from REDD projects, however, are contrast to the first impression of GCF, that is being exclusive. Despite the agenda to include stakeholders, the organizer charged a USD250 entrance fee per person, which is prohibitive to local groups such as forest peoples to take part. Yet it is their livelihood that is going to be affected by any decision made. Only in latter date the organizer introduce fee waiver for some groups on RSVP basis. Furthermore, the forest carbon initiatives created confusion amongst the local people as reflected on the letter of Forum mukim [2] of Aceh Besar dated 29th April 2010 addressed to the Aceh Governor. They put forward questions as follow:

  1. What is REDD and how REDD can solve the main problem of global warming and climate change?
  2. What are the benefits and disadvantages of REDD for the community?
  3. What is Ulu Masen and why Ulu Masen is created in our area? Could you show us where exactly the area of Ulu Masen is? To our knowledge, the area you have claimed as Ulu Masen is our Gunong (Mount) Seulawah.
  4. With reference to your claim of the Ulu Masen area, how does Aceh government actually recognise the Mukim Spatial Plan?
  5. Given that mukim is a recognised legal unit with authority to manage itself, to what extent does the Aceh province government respect the rights of mukim to land including forests?

These questions reveal the fact behind the hype marketing of Aceh as REDD designated area that the fundamental question of rights to the area has not been addressed, let alone resolved. Further, basic information about forest and climate projects is barely available for the affected local people. This lead to confirm the first impression to the GCF event as a projection of elitist initiatives.

The Aceh Besar mukim leaders therefore agree to:

  1. reject any REDD proposal before the issues of delineation between mukims area, mukim spatial plan, recognition of indigenous community rights to land and management of natural resources and other property are resolved;
  2. reject Ulu Masen as protected forest area because Ulu Masen is unknown to the local community. The management and purpose of Ulu Masen area are not clear for the local people;
  3. call for securing the legality of the management and delineation of mukim area as a prerequisite to establish Aceh Besar Spatial Planning.

The Aceh Besar mukims are supported by other local leaders as stated in a statement signed by 17 mukim leaders of 5 districts in Aceh. Support also granted by representatives of Acehnese civil society. The statement of mukim leaders reads:

    “We demand Aceh province government to recognise our sovereignty of our land and natural resources by way of clarifying the border of mukims region, regional spatial planning, recognition to our land rights and our authority to natural resources and other properties. Therefore we demand self-governance at mukim level.”

Civil Society Forum for the Sovereignty of Mukim

1. Majlis Duek Pakat Mukim Aceh Besar
2. Yayasan Rumpun Bambu Indonesia (YRBI)
3. Jaringan Komunitas Masyarakat Adat Aceh (JKMA Aceh)
4. Koalisi NGO HAM
5. LBH Aceh
6. Walhi Aceh
7. Forum LSM Aceh
8. PeNa (Peduli Nanggroe Aceh)
9. Uno Itam
10. SuLoh
11. Permata
12. Silfa
13. Solidaritas Perempuan (SP)
14. Kontras Aceh
15. Bejroh
16. SUM(Sahabat Ulu Masen)
17. Yayasan Lamjabat
18. LBH Lingkungan
19. G-fon (Green Forum)
20. Mahasiswa Peduli Keadilan
21. Kata Hati
22. Yayaysan Ekosistem Leuser
23. Forsela
24. Prodeelat
25. RPuK(Relawan Perempuan untuk Kemanusian)
26. ACSTF(Aceh Civil Society Task Force)
27. Saree School
28. KUALA(Koalisi untuk Laut Aceh)
29. Panorama
30. Pugar
31. Ekowisata
32. Bingkai Indonesia Jogja
33. Beujroh
34. SMUR(Solidaritas Mahasiswa Untuk Rakyat)
35. Poros Lauser
36. Lingka
37. Tikar Pandan
38. PCC (People Criss Centre)
39. AJMI (Aceh Justice Monitoring Independen)
40. MAPAYA
41. Flower
42. SEIA (Serikat Inong Aceh)
43. IPPEMAL
44. IKAPALA
45. BEM Fakultas Hukum Unsyiah
46. BEM Pertanian Unsyiah
47. Badko HMI Aceh
48. BEM FISIP Unsyiah
49. Mapala Hukum
50. Mapala STIK
51. Fak Teknik Lingkungan Universitas Serambi Mekkah


[1] As stated on FFI’s website accessed on 14th May 2010

[2] A Mukim is the Acehnese traditional legal unit of governance between gampong (lowest level of customary governance) and sub-district – usually covers several gampongs.

Leave a Reply

  1. Terima kasih kepada REDD Monitor,komentar kami jangan gunakan kata-kata “Masyarakat lokal” mohon dihapus dan diganti dengan “Masyarakat adat” (tradition,ingenius people)
    Terima kasih.

  2. Press Release
    “Kami Menolak Masyarakat Dijadikan Alat Legitimasi atas nama REDD”
    Banda Aceh. Rabu/19 Mei 2010

    = = = = = = = = = = = = = = = = = =

    Upaya untuk mengurangi emisi global melalui program REDD sama sama sekali bukan merupakan solusi bagi pengurangan emisi global. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal:

    1) Pemerintah Aceh yang menjadi prakarsa utama dalam proyek REDD belum memberikan informasi penuh mengenai REDD, seperti apa itu REDD; Apa resiko REDD terhadap Masyarakat; Bagaimana mekanism REDD; Apa keutungan terhadap masyarakat dan lainnya. Pada hal hak atas informasi adalah kewajiban Negara untuk memenuhi kepada warga Negara.

    2) Wacana REDD terkesan, hanya didominasi segelintir actor, actor negara(Pemerintah Daerah Aceh) dan swasta terutama broker—yang mencari keuntungan dibalik proyek REDD.

    3) Pengurangan emisi merupakan pengalihan resiko dari Negara maju kepada Negara miskin. Negara maju terus saja mempertahankan corak produksi mereka yang memang mengeluarkan emisi karbon dari berbagai jenis industri. Ini sama sama sekali tidak adil. Padahal upaya mengurangi emisi bukan hanya tanggungjawab masyarakat di negara meiskin, melainkan tanggungjawab bersama. Kompensasi melalui proyek REDD bukan solusi, mekanisme ini tidak adil.

    4) Kami beranggapan, bahwa tanpa REDD pun kami telah berjuang mengurangi emisi pemanasan global sejak dari dulu. Jadi kami tidak membutuhkan REDD.

    5) Mana mungkin pelaku bisnis skala besar, yang selama ini menjadi penyebab meningkatnya kadar gejala pemansan rumah kaca(green houses effect-GHE) terlibat mengurangi gejalan GHE. REDD lebih kentara merupakan program pencucian dosa. Ini tidak adil.

    Pertemuan GCF (Governor Climate and Forest meeting) dengan agenda utama membicarakan hal-hal teknis untuk implementasi Reducing Emission from Deforestation and Degradation (REDD) adalah sebagai bukti kegagalan negara Republik Indonesia dalam mempertahankan kedaulatannya sekaligus merampas hak-hak masyarakat Aceh terhadap hutan. Buktinya Pemerintah melakukan negosiasi atas alasan mengurangi dampak perubahan iklim generasi kedua post 2012, dengan menjual wilayah udara masyarakat Aceh. Karenanya maka Forum Masyarakat Sipil untuk Kedaulatan Mukim melakukan aksi penolakan pada selasa/18 Mei 2010 kemarin.

    Kenapa GCF III harus ditolak?

    1. Forum GCF adalah milik penguasa. Masyarakat hanya sebagai pelengkap semata. Karena dalam forum tersebut, Organisasi masyarakat sipil & masyarakat pemilik hutan (para imuem mukim & tokoh masyarakat) hanya diberi ruang diskusi di side event ( = pertunjukan sampingan). Hai ini menunjukkan bahwa pada forum ini suara rakyat hanya sebagai pelengkap semata. Pernyataan menarik dari Ketua Panitia GCF Husaini Syamaun kemarin pagi saat membuka acara menyatakan bahwa pertemuan ini sengaja dipisahkan antara taks force meeting dan side event. Mengingat pada pertemuan tim taks force antar negara itu merupakan kegiatan serius yang tidak boleh diganggu mengingat membahas hal-hal berkenaan dengan standar-standar teknis mengenai REDD, tidak boleh bertele-tele dan membahas hal-hal yg lebih kongkrit.

    2. Hati-hati “jebak hak ulayat terhadap tafsir kedulatan mukim”. Di Aceh tidak mengenal hak ulayat, yang ada adalah Hak Potalllah dan Hak Ummat, yang kuasa dan pengaturannya ada pada mukim. Sesat tafsir atas kedaulatan mukim sedang berada dalam jebakan istilah hak ulayat.. Penggunaan kata hak ulayat atas hutan akan melokalisir kuasa mukim dan hak adat atas wilayah & SDAnya

    3. Dalam sistem tata negara Aceh, tidak mengenal istilah kemukiman, tapi mukim.

    4. Sponsor kegiatan adalah perusahaan penyumbang emisi dan perampas hak rakyat yg sampai hari ini masih bermasalah dengan rakyat Aceh. Sponsoer yg dimaksud adalah: EXXON MOBILE, La Farge (induk perusahaan PT.SAI), BP Migas. Ada kepentingan apa mereka atas issue ini?

    5. Para Imuem Mukim Aceh besar melalui Pernyataan Sikapnya secara tegas menyatakan bahwa: Sebelum adanya kejelasan tentang Tata Batas Wilayah antara Mukim, Tata Ruang Mukim, Pengakuan Hak Masyarakat atas tanah, dan Pengakuan Kewenangan Mukim Atas Sumber Daya Alam & Harta Mukim lainnya, maka Kami tidak sepakat membicarakan tentang ”REDD”. Untuk itu maka Pemerintah Aceh harus memastikan dan menyampaikan penjelasan yang sebenarnya dalam bentuk tertulis terhadap POKOK-POKOK SIKAP dan TUNTUTAN mereka. Dan hari ini hal tersebut belum dilakukan.

    6. Kondisi saat ini, bahwa para imuem mukim & tokoh masyarakat Aceh Besar sudah menyatakan walk out dari pertemuan tersebut, selain itu peserta dari masyarakat Aceh Barat sudah pulang kemarin sore.

    Beranjak dari berbagai pertimbangan diatas, maka semua komponen masyarakat sipil Aceh yang tergabung dalam Forum Masyarakat Sipil Aceh untuk Kedaulatan Mukim menyatakan Sikap:

    “Menolak Pertemuan GCF (Governor Climate and Forest) tanggal 17-22 Mei 2010 yang menjadikan Masyarakat sebagai Alat Legitimasi atas nama REDD”

    Dan menuntut pemerintah Aceh dan semua pihak pendukung implementasi REDD di Aceh untuk:

    1. Hentikan semua pembahasan tentang REDD dan proses membangun legitimasi untuk melaksanakan “politik dagang” REDD di Aceh.

    2. Kembalikan sepenuhnya Kedaulatan Mukim atas Wilayah dan Sumber Daya Alamnya, yaitu: Kejelasan Tata Batas Wilayah Mukim, Tata Ruang Mukim, Pengakuan Hak Masyarakat atas Tanah, dan Pengakuan Kewenangan Mukim atas Sumber daya Alam dan harta mukim lainnya.

    3. Serahkan sepenuhnya kewenangan mukim dalam penyelenggaraan pemerintahan di tingkat mukim.

    4. Meninjau Ulang SK.Gubernur Aceh No. 522/372/2009 tanggal 7 Juli 2009 tentang Pencadangan lahan untuk kawasan strategis ulue masen aceh sebagai areal pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan

    Banda Aceh, 18 Mei 2010
    Forum Masyarakat Sipil untuk Kedaulatan Mukim

    Majlis Duek Pakat Mukim Aceh Besar, YRBI, JKMA Aceh, Koalisi NGO HAM, LBH Aceh, Walhi Aceh, Forum LSM Aceh, PeNa, Uno Itam, SuLoh, Permata, Silfa, SP, Kontras Aceh, Bejroh, SUM, Yayasan Lamjabat, LBH Lingkungan, Pugar, G-fon, MPK, Kata Hati, YEL, Forsela, Prodeelat, RPuK, ACSTF, Saree School, KUALA, Panorama, Ekowisata, Bingkai Indonesia Jogja, Beujroh, SMUR, Poros Lauser, Lingka, Tikar Pandan, PCC, Mapayah, Flower, SEIA, IPPEMAL, IKAPALA, BEM Fak. Hukum Unsyiah, BEM Pertanian Unsyiah, Mapala Hukum Unsyiah, Mapala STIK, FT.Lingkungan Univ.Serambi Mekkah, Persatuan Mahasiswa Aceh Raya, PAL CANIVA-51 USK